Belajar Komputer

Belajar komputer itu mudah dan gratis

Kuntilanak dalam sarung !


Sewaktu didi masih kecil, suasana pedesaan di Bangka Belitung masih begitu alami. Demikian halnya pemukiman penduduknya. Rumah penduduk masih banyak yang berdinding papan dan berbentuk rumah panggung. Di belakang maupun samping rumah juga masih banyak terdapat hutan.

Masih ingat oleh didi, dulu kalo mau buang air besar lebih baik disungai atau jangan jauh dari rumah.

Koq , bukan di kamar mandi ?

Iya sih, masa-masa itu masyarakat belum begitu mengenal dan mau membuat MCK di rumah. Jadinya, mereka suka yang praktis aja. Langsung ke sungai dan "bruss…!" atau ke belakang rumah yang masih banyak hutannya.

Pernah dengar khan dengan yang namanya KUNTILANAK ?
Cerita unik kali ini yang membuat kami yang waktu itu masih kecil tidak berani buang air besar di hutan sekitar rumah.
…….. begini ceritanya :

Pada suatu sore So’eb dan Leman (bukan nama sebenarnya) berniat buang hajat bersama-sama di hutan sekitar belakang rumah. Tidak lupa mereka membawa rokok sebagai pengusir nyamuk dan hanya mengenakan kain sarung, agar mudah dan nyaman (katanya sih).
Mereka pun mengambil posisi yang tidak begitu berjauhan. Namun Leman mencari tempat yang agak tinggi, yakni di sebuah dahan batang duku yang telah lama tumbang.
Disaat-saat mereka sedang asyik-asyiknya membombardir kawasan tersebut dengan berbagai jenis ukuran "bom alami" . Mereka mendengar suara seperti anak kecil yang menangis. Suara itu pun dikenal oleh mereka sebagai KUNTILANAK.

 

Menurut sejumlah kabar, bila suara kuntilanak terdengar jauh maka ia berada di dekat kita. Namun bila terdengar dekat, maka ia justru berada jauh dari kita.
Suara itu mulanya berirama dan terdengar tidak begitu jelas sumbernya sehingga mereka sedikit was-was, karena tidak bisa memperkirakan dimana sih sang kuntilanak. Tak lama kemudian suara kuntilanak itu terdengar sangat dekat, dan itu berarti kuntilanaknya jauh dari tempat mereka. Tenanglah mereka, dan melanjutkan aksi buang hajat bersama sambil bersenda gurau.
Tiba-tiba ,

" Oee… oeeeee …. oee.. ..! " suara itu kembali terdengar dan terasa begitu JAUH.
Ketika So’eb berniat mencari arah sumber suara itu, namun ia sangat terkejut ketika melihat temannya yang lagi asyik buang hajat di dahan pohon duku tidak menyadari sesuatu.
Sang KUNTILANAK ternyata tengah duduk tepat dibawah dahan tempatnya buang air hajat, sementara itu sebagian tangannya masuk kedalam kain sarung Leman, temannya.
" Man ! Kuntilanak ……… ," So’eb lari ketakutan meninggalkan Leman yang sedang dikerjain oleh kuntilanak tersebut.

Leman yang tak menyadari justru heran melihat perilaku So’eb yang tunggang langgang. Ia menoleh kesekeliling, namun tak melihat apa-apa. Ia hanya menyadari "anu"-nya terasa sejuk dan seperti dihembus angin yang segar.
Namun, saat ia menyibak kain sarungnya. Ia mendapati seorang KUNTILANAK betina lagi tersenyum sambil mengelus-elus "telor ayam" bang Leman.
" ………… Gedubraak ! ….. "

Leman terkejut dan langsung jatuh pingsan.

Akibat kejadian ini, menurut ceritanya Leman harus diobati dukun kampung karena "telor ayam" miliknya bengkak dan gatal-gatal. Butuh beberapa waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan Leman dari "jasa elus" sang KUNTILANAK tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: